LANGKAH KOMINFO DALAM MEMBANGUN DIGITALISASI DI INDONESIA

RESENSI BUKU

DISCOVERY, ADVENTURE, MOMENTUM AND OUTLOOK (DAMO)

OLEH : HENDRY FERNALDY LUKMANA [7311417097]

DOSEN PENGAMPU : VITRADESIE NOEKENT S.E, M.M

ROMBEL : MANAJEMEN PEMASARAN B 2017

DALAM RANGKA MEMENUHI TUGAS MATA KULIAH SISTEM INFORMASI MANAJEMEN

UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG

Data Buku

A. Judul Buku : Discovery, Adventure, Momentum And Outlook (Damo) - Buku Memori   Jabatan Menteri Komunikasi Dan Informatika Republik Indonesia

B. Penulis : Rudiantara

C. Penerbit : Kementerian Komunikasi Dan Informatika

D. Editor : Bagian Evaluasi Dan Pelaporan Biro Perencanaan Sekretariat Jenderal, Kementerian Komunikasi Dan Informatika

E. Tahun : Oktober 2019

F. Dimensi : 16,66 x 22,86 cm

G. Tebal : 66 Halaman

H. Format : Portable Document Format (PDF)

 

Sinopsis

Buku ini menampilkan informasi mengenai kinerja Kementerian Informasi dan Komunikasi selama 4 tahun kepemimpinan Rudiantara yang menjabat sebagai Menteri Komunikasi dan Informasi dengan menggunakan pendekatan Bisnis dari Jack Ma pemilik Alibaba, yaitu DAMO, atau singkatan dari Discovery, Adventure, Momentum dan Outlook. DAMO sendiri merupakan teori dan kerangka berpikir ini lahir dari pemikir dan pelaku bisnis digital Asia yang menawarkan optimisme terhadap masa depan dan apa yang bisa dilakukan agar sukses memberi manfaat kepada umat manusia. Pendekatan ini digunakan Kementerian Komunikasi dan Informasi untuk menghadapi tikungan tajam digitalisasi pada era ekonomi digital saat ini, dimana masyarakat Indonesia sendiri merupakan "early adapters" yang sangat baik bagi perkembangan teknologi yang ada. Hasilnya, KemKominfo mampu meraih berbagai pencapaian pada setiap aspek DAMO (Discovery, Adventure, Momentum, dan Outlook) yang diterapkan sebagai langkah digitalisasi di Indonesia. Pencapaian dalam aspek tersebut dijelaskan pada

 

Review Buku

A. Gambaran Umum

Melalui buku Memori Jabatan Menteri Komunikasi Dan Informatika Republik Indonesia, para pembaca dapat mengetahui berbagai pencapaian yang telah diraih KemKominfo dalam membangun digitalisasi di Indonesia. Berbagai pencapaian tersebut diraih dalam setiap aspek DAMO, sebuah pendekatan bisnis yang diterapkan dalam menjalankan program kerja KemKominfo, yang terdiri dari 4 aspek antara lain Discovery, Adventure, Momentum dan Outlook, yang dimana setiap aspek tersebut terbagi menjadi 4 bagian/chapter pada buku, sehingga mampu menjelaskan informasi secara lebih rinci pencapaian KemKominfo dalam setiap aspeknya.

Dalam aspek Discovery, KemKominfo berhasil menemukan cara mengatasi hambatan-hambatan, terutama hambatan geografis melalui penerapan skema pembiayaan untuk menyediakan infrastruktur TIK. Skema tersebut antara lain Skema Pembiayaan KPBU dan Skemba Blended Finance. Hasilnya adalah hadirnya teknologi 4G yang 2 tahun lebih cepat dari hasil estimasi perkiraan, yang seharusnya hadir pada 2016, tetapi dapat hadir lebih awal yaitu pada 2014, serta hadirnya Otomatisasi perizinan melalui proses rekayasa ulang mekanisme perizinan sehingga perizinan dapat berjalan lebih efisien melalui penerapan teknologi.

Aspek selanjutnya, yaitu Adventure. Hasil dari aspek ini antara lain adanya penerapan Skema KPBU pada proyek Palapa Ring dan Satelit Multifungsi (SMF) Satelit Republik Indonesia (SATRIA); penerapan kebijakan registrasi prabayar yang berisiko tinggi menjadi peluang untuk menyehatkan industri telekomunikasi sehingga penyedia jasa layanan dapat mencetak SIM dengan lebih efisien; Penerapan strategi TKDN untukmembantu untuk menahan kurs Rupiah yang anjlok terhadap dollar; serta penerapan kebijakan yang bersifat adventure pada ekosistem startup dan unicorn di Indonesia, seperti dengan mendukung aplikasi transportasi online dan memfasilitasi kegiatan startup melalui Gerakan 1000 Startup dan Next Indonesian Unicorn (Nexticorn) dengan tujuan untuk mencapai nilai ekonomi digital sebesar 130 miliar dollar AS pada tahun 2020.

Pada aspek Momentum, Kominfo telah menciptakan banyak momentum dalam 5 tahun belakangan, Kominfo tidah hanya menjadi regulator, tetapi juga berperan sebagai fasilitator dan akseletator. Langkah yang diambil oleh Kominfo untuk memanfaatkan momentum yang ada antara lain menyusun Roadmap e-commerce untuk menjaga ekonomi digital negara, meningkatkan literasi digital melalui Gerakan Literasi Digital "Siberkreasi" untuk mengatasi penyebaran informasi negatif, dan ebagai fasilitator pengembangan kota cerdas di seluruh Indonesia emlalui Gerakan Menuju 100 Smart City

Terakhir, dalam aspek Outlook, Kominfo menyelenggarakan program Digital Talent Scholarship untuk menyediakan tenaga kerja terampil dalam bidang digital untuk memenuhi kebutuhan digital dimasa mendatang yang tersebar di 25 kota di 20 provinsi termasuk Jayapura dan Lhokseumawe.

 

B. Kesimpulan

- Kelebihan dan Kekurangan Buku -

1. Kelebihan

Berbagai aspek diatas merupakan gambaran umum dari isi buku pada setiap chapter yang terdiri dari 4 chapter (Discovery, Adventure, Momentum dan Outlook). Pada setiap chapternya telah dijelaskan secara rinci oleh penulis sehingga bersifat informatif dan juga edukatif bagi para pembaca. Hal ini juga menambah wawasan dan pengetahuan pembaca terkait digitalisasi serta menyadarkan pembaca bahwa sekarang kita berada di era digitalisasi, bagaimana kita bisa menyikapi hal tersebut untuk membantu pembangunan digital yang maju di Indonesia. Selain itu, penjelasan rinci pada setiap bab telah dilengkapi berbagai format pendukung, seperti gambar, grafik, statistik, lampiran proyek pada bagian akhir buku serta rangkuman poin penting pada setiap chapter dan sub chapter, sehingga membantu pemahaman pembaca. Disisi lain, meskipun menggunakan istilah yang ilmiah, terdapat beberapa penjelasan atau definisi terkait istilah tersebut, seperti pada Pita Frekuensi yang dijelaskan definisinya oleh penulis disetiap jenis Pita Frekuensi tersebut, yang terdiri dari 1800MHz, 2100MHz, 800MHz dan 900 MHz. Hal ini tentu membantu meningkatkan wawasan pembaca akan pengetahuan TIK.

2. Kekurangan

Meskipun telah dijelaskan secara rinci, penggunaan bahasa ilmiah akan cukup menyulitkan para pembaca awam yang kurang memahami bahasa tersebut. Adanya rangkuman poin penting pada setiap chapter dan sub chapter ini juga terkesan penjelasannya dilakukan secara berulang-ulang dan poin penting itu menurut saya terletak pada bagian yang kurang cocok dengan isi penjelasan, serta terpisah-pisah sesuai sub-chapter. Saran saya, seharusnya rangkuman poin penting dari sub chapter dijadikan satu pada bagian akhir chapter saja, sehingga memudahkan pembaca mendapat intisari dari satu chapter secara keseluruhan. Namun, pada setiap sub tetap perlu disertakan poin penting secara lebih singkat dan sesuai dengan isi atau bagian dari sub-chapter tersebut.

Komentar

Postingan populer dari blog ini